Kamis, 01 November 2012

Makalah unggas



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.             Latar Belakang
Itik merupakan salah satu cara alternatif beternak yang tidak bisa di pandang sebelah mata. Selain telurnya yang mampu di buat menjadi olahan telur asin, dagingnya mampu di buat menjadi bahan olahan yang banyak di gemari oleh masyarakat.
Namun di balik kenikmatan olahan itik, banyak sekali proses yang harus di jalani, seperti: budidaya itik, perawatan itik, panen, hingga pasca panen. Dengan proses beternak itik yang baik tentunya akan menghasilkan hasil atau kualitas itik yang sangat baik.
Seperti kita ketahui bersama, bahwa perkembangan Perunggasan sejak awal tahun 2004 telah banyak didera dengan berbagai cobaan yang banyak mengakibatkan terpuruknya usaha di bidang Perunggasan, baik itu Peternak Ayam Ras (Ras Petelur/Pedaging), Ayam Buras maupun Peternak Itik. Dimulai dengan adanya serangan penyakit Unggas yang terkenal ganas yaitu penyakit Avian Influenza atau yang lebih populer dengan sebutan penyakit Flu Burung sampai dengan kenaikan harga bahan baku pakan ternak maupun pakan ternak jadi akibat kenaikan harga. Bahan Bakar Minyak, kondisi seperti itu dirasa sangat menekan terhadap perkembangan perunggasan secara menyeluruh.
Pembangunan sub sektor Peternakan tidak bisa terlepas dari kegiatan Pembangunan Pertanian, karena Pembangunan sub sektor Peternakan merupakan bagian dari Pembangunan Pertanian, hal ini sejalan dengan apa yang telah dicanangkan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 Juni 2005 tentang Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) dimana Peternakan termasuk didalamnya. Apabila kita amati bersama dari kondisi yang telah terjadi dalam Pengembangan Pembangunan Peternakan fokus yang paling menonjol dan perlu mendapat perhatian serius adalah komoditas Perunggasan, hal ini disebabkan dengan banyaknya kasus penyakit AI maupun kenaikan harga pakan serta penurunan minat masyarakat terhadap budi daya unggas terutama unggas berupa Ayam Buras, malahan tidak sedikit kasus penyakit AI ini yang menyerang terhadap manusia, sehingga Pembangunan Perunggasan perlu disikapi dengan arif dan selektif serta harus bisa menciptakan terobosan alternatif untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan daging yang berasal dari Unggas.
Dari pengalaman di lapangan ternyata ada komoditas lain selain ayam ras pedaging yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan daging dengan waktu cepat serta kualitas yang tidak kalah dengan ayam ras pedaging yaitu Unggas Air berupa Itik Peking (Peking Duck). Dimana Itik Peking mempunyai kemampuan untuk menghasilkan produksi daging kurang dari 2 bulan bisa menghasilkan berat badan sekitar 3–3,3 kg, sehingga sudah siap untuk dipotong.Hal ini telah dibuktikan oleh Peternak  Kecamatan Junrejo Kota Batu dimana Itik Peking umur 53 hari bisa mencapai berat badan sekitar 3,25 kg.
Dengan melihat kondisi seperti tersebut diatas kami mencoba membuat tulisan mengenai budi daya Itik Peking dalam rangka Akselerasi Pembangunan Peternakan Unggas Air untuk pemenuhan kebutuhan akan daging dalam waktu yang relatif cepat, mudah dan bisa dikembangkan oleh Masyarakat di Pedesaan.

1.2.Ruang Lingkup
Itik peking berasal dan dikembangkan pertama kali di daratan Tientsien, Cina. Itik peking kali pertama didatangkan dari Cina ke Amerika Serikat pada tahun 1870. Popularitasnya sebagai itik penghasil daging telah menyebar ke seluruh dunia, baik di belahan bumi utara maupun selatan, termasuk di daerah tropis. Itik peking memiliki badan yang lebih kompak di bandingkan dengan beberapa jenis itik lainnya.Dalam bidang pembibitan, itik peking banyak disilangkan dengan itik jenis lain guna untuk memperbaiki penampilan keturunannya. Jenis itik yang sering disilangkan dengan itik peking di antaranya itik alyesbury.
Untuk daerah Indonesia sendiri, itik ini banyak disilangkan dengan jenis itik kaki Campbell, mojosari dan jenis itik lainnya. Hasilnya pun tidak perlu diragukan lagi, akan tetapi perlu usaha penelitian lagi lebih lanjut untuk pengembangannya. Kapasitas produksi telur itik peking dapat mencapai 110-130 butir/tahun.  Jumlah produksi telur ini termasuk tinggi untuk jenis itik pedaging. Telur itik peking biasanya juga memiliki daya fertilitas yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan seekor pejantan itik peking mampu mengawini 5-6 ekor betina dengan tingkat fertilitas yang cukup memadai pula. Itik peking pertama kali bertelur sekitar umur 6 bulan.
Karkas itik peking berwarna kuning dan kelihatan sangat menarik. Tekstur dagingnya juga sangat bagus. Kalau anda pesan menu masakan daging itik di restoran atau hotel berbintang kebanyakan yang disajikan adalah daging itik peking karena kekhasan warna, rasa, dan bentuknya. Persilangan dengan itik alyesbury menghasilkan keturunan dengan tekstur daging yang lebih bagus lagi.

1.3.Maksud dan Tujuan
Maksud dari pola pengembangan pemeliharaan Itik Peking ini tiada lain:

1.      Untuk mencari alternative terobosan dalam rangka mempercepat produksi daging yang berasal dari Unggas Air (Itik).
2.      Merubah Pola Usaha Unggas Air (Itik) dari yang Nomaden kearah yang Intensif.
3.      Menjadikan usaha Unggas Air (Itik) menjadi usaha Pokok Masyarakat.
4.      Menciptakan peternak yang mandiri dan berkualitas (Peternak Tangguh).
5.      Menyediakan permintaan pasar terutama permintaan daging Itik yang bekualitas.

Sedangkan tujuan dari budi daya Itik Peking (Peking Duck) ini antara lain:

1.      Meningkatkan produksi daging Itik yang berkualitas.
2.      Meningkatkan pendapatan dari para peternak Itik.
3.      Menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan.
4.      Mengurangi tingkat pengangguran.
5.      Memperkenalkan usaha peternakan Itik jenis Pedaging yang bisa menghasilkan daging kualitas prima dalam waktu relatif singkat.
6.      Disamping penyediaan daging, juga bisa menghasilkan bulu Itik (Feathers Duck) sebagai bahan kerajinan seperti Shutle Cok, Jok Kursi, Kamoceng dll.













BAB II
Hasil Kunjungan ke Peternakan Itik Peking
            Kunjungan dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2012, ke suatu peternakan Itik peking yang terdapat di desa Rejoso, Kec. Junrejo, Kota Batu. Peternakan tersebut milik Bapak Swastito dengan no. Hp. 08575501988 dan Telp. 5406369. Dari Hasil kunjungan dan wawancara yang kami lakukan, dapat diperoleh berbagai ilmu yang sangat berharga dan bermanfaat untuk memperkaya ilmu kita dalam bidang ilmu peternakan khususnya ternak unggas. Adapun hasil dari kunjungan dan wawancara yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
a.                   Jenis Itik yang dipelihara dan populasi
            Jenis Itik yang dipelihara oleh bapak Swastito adalah jenis itik peking. Itik peking yang dibudidayakan oleh bapak swastito yaitu itik peking yang dibudidayakan hingga dewasa dan bertelur. Telur tersebut digunakan untuk telur tetas. Jumlah itik peking dewasa tersebut berjumlah 783 ekor, dengan 700 ekor betina dan 83 ekor pejantan. Selain itu Pak Tito juga memelihara itik peking untuk pedaging. Untuk itik peking pedaging berjumlah 1000 ekor.
b.                  Produksi
Itik peking petelur yang dimiliki bapak swastito di golongkan menjadi 2 umur, yatu umur 2 tahun yang berjumlah 500 ekor dan itik yang berumur 1 tahun berjumlah 200 ekor. Produksi itik peking yang berumur 2 tahun mencapai 300 - 350 butir per hari. Sedangkan untuk itik yang berumur 1 tahun ,produksinya mencapai 80 – 130 butir per hari. Sedangkan untuk itik peking pedaging, masa panen antara 45 -60 hari. Harga per ekor itik adalah Rp. 21.500,- /ekor.
c.                   Sistem Perkandangan
Sistem perkandangan yang digunakan oleh bapak Swastito, menerapkan sistem kandang yang efektif. Pada bagian bawah kandang itik pedaging terdapat kolam lele yang ditutup dengan anyaman bambu yang memiliki celah teratur. Sehingga kotoran itik peking akan jatuh ke dalam kolam lele. Dengan demikian, kotoran tersebut dapat dimanfaatkan untuk pakan lele, tanpa mengalami pengolahan yang rumit. Sehingga diperoleh keuntungan berganda, yang diperoleh dari itik dan panen lele.
d.                  Pakan yang digunakan
Bapak Swastito menggunakan pakan alternatif untuk membudiyakan itik peking tersebut, baik petelur maupun pedaging. Untuk itik peking petelur , bapak Swastito menggunakan ransum pakan yang terdiri dari tepung roti, bekatul, konsentrat, serta limbah darah dari RPH. Darah yang diperoleh dari RPH diproses dengan cara merebus darah tersebut dalah kuali besar selama 8 jam. Kemudian didiamkan selama 1 malam terlebih dahulu, sebelum dicampur dengan ransum pakan untuk itik peking petelur. Rasio atau perbandingan bahan pakan untuk ransum adalah 40% darah, 20% bekatul, 30% tepung roti , dan 10 % konsentrat, serta ditambah sedikit mineral.
e.                   Sistem Pemberian Air minum
Sistem pemberian air minum yang digunakan oleh Bapak swastito menerapkan sistem pemberian air minum yang mengalir. Jadi terdapat saluran air dari parit menuju kandang. Sehingga air selalu mengalir dan tersedia pada tempat minum, kemudian tumpah ke dalam kolam lele. Sehingga kondisi kandang selalu kering serta dapat mencegah itik dari serangan penyakit.
f.                   Sanitasi
Sanitasi dilakukan pada saat, sebelum kandang di pakai untuk budidaya itik peking padaging dan sesudah itik pedaging panen. Sanitasi dilakukan dengan cara memberi desinfektan pada saat, sebelum kandang digunakan untuk budidaya. Serta pada saat paska panen, dengan cara membersihkan sisa-sisa kotoran.

BAB II
PEMBAHASAN

3.1.             Sejarah singkat
Itik peking merupakan salah satu hewan ternak yang paling banyak di tekuni oleh para peternak di Indonesia. Itik peking bisa di manfaatkan daging dan telurnya, namun itik peking lebih banyak di minati dagingnya oleh masyarakat. Oleh karena itu, para peternak itik memanen ternakannya sebagai daging. Olahan makanan dari daging itik sangat bervariasi dan cukup mendapat tempat di masyarakat. Selain itu pertumbuhan itik relatif cepat, sehingga tidak heran bisnis itik ini cukup prospektif untuk ditekuni.
            Sebagai upaya untuk memaksimalkan budidaya dan bisnis itik ini telah dikembangkan pola Kemitraan Peternakan Bebek Peking. Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bahasa Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).
Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.
Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA
2. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga
3. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.
Berikut spesifikasi bentuk standar itik peking jantan dan betina :
1.      Kepala             : agak besar dengan crown (pial) yang tinggi, bagian depan crown tersebut agak terangkat ke atas, seolah-olah terangkat dari rahang atas. Pipinya tampak penuh dan berisi.
2.      Paruh               : relatif pendek tetapi tebal karena kulmen yang tinggi dan membulat. Warna orange cerah dengan ujung paruh agak putih.
3.      Mata                : tampak liar dan siaga, tetapi agak terlindung olah alis yang menonjol dan pipi yang berisi, warna mata kebiruan.
4.      Punggung        : sekitar 65% lebih panjang dari lebarnya, namun demikian tampak agak pendek karena bagian ekor terangkat ke atas, serta rump (tungging) yang menebal, sedangkan bagian depan punggung rata.
5.      Ekor                : terangkat, lebat menyebar, dan cukup panjang.
6.      Badan              : berimbang antara panjang dan lebar, relatif kekar, berdaging dan penuh. Dada lebar, perut besar dan penuh, tetapi tidak terjatuh.
7.      Kaki                : kuat dan tidak terlalu panjang, warna merah-orange.
8.      Bulu                : lebar dan fluffy terutama pada bagian posterior, warna putih-krem sampai krem.
9.      Penampilan      : antara 35-40° dari garis horizontal, hidup dan ringan dalam pergerakan.
10.  Berat standar   : jantan dewasa 4,5 kg dan betina dewasa 4 kg.
Bisnis bebek peking merupakan peluang bisnis yang cukup potensial bagi masyarakat Indonesia, ada beberapa hal yang membuat peluang bisnis ini layak dipertimbangkan:
1.      Dari segi laju pertumbuhannya, ternak itik dapat tumbuh lebih cepat dari ternak ayam, apalagi itik yang tergolong tipe pedaging seperti itik peking. Pada umur satu bulan berat itik peking sudah mencapai 1,5kg dan pada umur 2 bulan beratnya sudah bisa mencapai 3kg, sedangkan untuk ayam potong (broiler) pada umur yang sama hanya bisa mencapai berat sekitar 1kg dan 2kg.
2.      Ternak itik diyakini jauh lebih tahan terhadap penyakit jika dibandingkan dengan ternak ayam. Sekalipun penyakit-penyakit yang menyerang ternak ayam pada umumnya juga menyerang itik, namun akibat yang diderita oleh itik tidak terlalu parah. Hal ini terkecuali hanya pada kepekaannya terhadap aflatoxin di mana itik amat peka terhadap aflatoxin yaitu jamur pada biji-bijian.
3.      Dalam bentuk usaha peternakan rakyat, peternakan itik dapat diusahakan dengan memanfaatkan peralatan yang amat sangat sederhana, misalnya perkandangannya serta alat-alat yang digunakan dalam kandang. Bahkan itik dapat bertahan hidup di alam terbuka dengan model kandang seperti kemahnya anak pramuka.
4.      Dalam usaha peternakan itik yang diusahakan secara ekstensif kita dapat memanfaatkan alam sekitar di mana banyak terdapat sumber-sumber karbohidrat dan protein yang terbuang sia-sia seperti sisa-sisa panen padi di sawah, cacing, ikan-ikan kecil di sungai-sungai, dan lain sebagainya. Di samping itu, karena itik memiliki insting berkelompok (flocking instinct) yang amat kuat, maka ini sangat membantu dalam hal pengendalian terutama untuk model pemeliharaan yang bersifat ekstensif (digembalakan).
5.      Kulit telur itik pada umumnya lebih tebal dibandingkan dengan kulit telur ayam. Ini mempunyai arti penting dalam hal mengurangi resiko pecah atau retak terutama dalam penanganan (product handling) dan transportasi. Terlebih untuk usaha penetasan telur dan pembuatan telur asin.
6.      Pada umumnya unggas air seperti ternak itik dan yang lainnya jarang atau bahkan bisa dikatakan tidak memiliki sifat kanibal dan agonistik (berkelahi).
7.      Sisi lain pemanfaatan limbah terutama bulu, selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan kasur, bantal, atau pakaian, maka untuk bulu itik jenis tertentu seperti entok dan yang lainnya dapat dipergunakan sebagai bahan suttle kock. Ini berarti ada nilai lebih dari limbah yang berasal dari ternak itik.
8.      Jika dibandingkan dengan telur ayam ras maka telur itik terkesan lebih dihargai karena telur itik dijual dengan satuan butir/biji sedangkan untuk telur ayam ras dijual dengan satuan kilogram (kg).
9.      Secara umum harga produk ternak itik baik untuk komoditi telur atau daging terasa lebih stabil jika dibandingkan dengan produk ternak ayam.

Sedangkan berdasarkan hasil kunjungan ke peternakan milik Bapak Swastito, itik peking yang dipelihara memiliki ciri-ciri : memiliki warna bulu putih, badan lebar dan besar. Paruh berwarna kuning atau orange, sedangnkan kakinya juga berwarna orange. Itik peking memiliki pergerakan yang lamban. Bebek peking yang sudah dewasa mempunyai bobot badan sekitar 4,5 kg untuk pejantan dan sekitar 4 kg untuk itik betina.

3.2.    Pola Pengembangan Budidaya Itik Peking (Peking Duck)

1.      Sistem Pemeliharaan
Untuk menentukan suatu bentuk usaha terutama dalam usaha ternak itik, maka yang pertama kali diperhatikan yaitu tujuan usaha, apakah tujuannya untuk menghasilkan daging konsumsi atau mau menghasilkan bibit supaya untuk langkah selanjutnya bisa ditentukan sistem pemeliharaan yang akan diambil.
Dalam usaha perunggasan terutama unggas air (itik) dikenal dengan sistem pemeliharaan, yaitu:
1.               Sistem pemeliharaan ekstensif
2.               Sistem pemeliharaan semi intensif
3.               Sistem pemeliharaan intensif
Sistem pemeliharaan ekstensif, di mana pada sistem ini ternak-ternak dipelihara dengan cara di abur/digembalakan tanpa memperhatikan kandang maupun makanan, karena ternak-ternak tersebut dilepas di tempat-tempat yang mempunyai sumber pakan alami misalnya di daerah-daerah persawahan yang baru panen. Pemeliharaan ini dilaksanakan oleh para peternak yang bersifat tradisional dan modern, kondisi ini banyak ditemukan di daerah Jawa Barat bagian utara, karena daerah pantura ini merupakan daerah persawahan yang cukup luas sehingga menjadi potensi bagi pengembangan itik dengan sistem ekstensif.
Pemeliharaan dengan sistem semi intesif, di mana ternak-ternak yang di pelihara sudah memperhatikan kandang ternak dan diberi makan tetapi sewaktu-waktu dilepas untuk mencari makan sewaktu ada peluang pada saat panen padi ataupun pada tempat-tempat yang mempunyai potensi sumber pakan yang alami.
Sedangkan pemeliharaan yang intensif, ternak-ternak peliharaan selalu di tempatkan dikandang dan diberi makan secara terus menerus serta sudah memperhatikan aspek-aspek teknis pemeliharaan ternak secara ilmiah dan sudah menggunakan teknologi-teknologi yang dianjurkan.
Untuk pemeliharaan itik peking (peking duck), lebih tepat apabila dilaksanakan dengan sistem intensif, hal ini disebabkan itik peking (peking duck) merupakan itik ras pedaging yang mempunyai kemampuan kecepatan pertumbuhan dalam waktu yang relatif singkat, di mana dalam kurun waktu pemeliharaan kurang dari 2 (dua) bulan berat badannya sudah bisa mencapai di atas 3 kg dengan kondisi makanan yang baik dan itik sudah siap dijual sebagai itik pedaging, dengan kualitas daging yang prima. Dalam usaha budi daya itik peking (peking duck) ini dikenal beberapa tahapan pemeliharaan, terutama untuk usaha budidaya pembibitan sedangkan untuk budi daya penggemukan (penghasil daging) hanya dikenal 1 (satu) tahapan pemeliharaan.
Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan peternak itik peking. Pada saat ini, peternak lebih banyak menggunakan kandang intensif untuk budidaya ternak. Kandang intensif tersebut dapat meningkatkan atau mengoptimalkan produktifitas yang dimiliki ternak. Seperti halnya yang dilakukukan oleh bapak Swastito. Kandang yang digunakan oleh Bapak swastito adalah kandang intensif. Pada bagian bawah kandang milik bapak swastito tersebut terdapat kolam lele, yang memanfaatkan kotoran itik untuk pakan lele tersebut. Selain itu kandang itik yang dimiliki oleh Bapak Swastito tersebut terbagi menjadi beberapa flok. Setiap flok (bagian) tersebut dipisah dengan sekat-sekat. Setiap flok berisi 100 ekor bebek pedaging. Pada setiap terbagi menjadi 3 bagian, yaitu tempat untuk tidur, tempat makan dan tempat minum. Pada bagian tempat tidur dilapisi dengan serbuk gergaji yang cukup tebal, sehingga dapat menjaga suhu tempat tersebut dan memberikan kenyaman pada itik. Dengan pembagian tempat makan, minum dan tidur tersebut dapat meningkatkan kebersihan kandang.
3.3. Tahapan Pemeliharaan Pembibitan
1.    Pemeliharaan anak (masa starter)
           Pemeliharaan anak/masa starter dimulai pada saat itik peking (peking duck) berumur 1 hari sampai umur 60 hari, di mana anak-anak itik dipelihara dalam kandang khusus yaitu untuk kandang anak dengan memakai pemanas/induk buatan dalam rangka menghangatkan tubuh dari anak itik tersebut, hal ini disebabkan pada umur 1-14 hari anak itik tidak tahan dengan cuaca dingin karena belum dilengkapi dengan bulu yang sempurna untuk menahan dingin, sehingga perlu adanya bantuan induk buatan sebagai penghangat tubuh, serta anak itik diberi makan khusus yaitu pakan anak yang mempunyai kandungan protein sekitar 19-21% kadar protein dan lebih dikenal dengan pakan “starter”. Setelah umur 14 hari anak itik tersebut sudah mampu untuk menahan hawa dingin sehingga tidak perlu lagi dibantu dengan induk buatan (pemanas), di kandang ini bisa dipelihara sampai umur 60 hari bagi pemeliharaan pembibitan, selanjutnya setelah umur di atas 60 hari dipindahkan ke kandang masa pertumbuhan (grower). Untuk pemeliharaan anak ini bisa dalam bentuk postal ataupun menggunakan kandang box, untuk kandang box biasanya dilakukan pada umur 1-14 hari sedangkan dari umur 15-60 hari dilaksanakan pada kandang postal karena badan itik sudah mulai besar. Kapasitas kandang pada periode ini yaitu 10-15 ekor/m2.
Sedangkan berdasarkan hasil wawancara yaang telah dilakukan dengan Bapak Swastito sebagai peternak itik peking, untuk pemeliharan itik peking pada masa starter, beliau menggunakan boxs yang terbuat dari kayu. Boxs tersebut berukuran panjang 2 meter, dengan lebar 1 meter dan tinggi dari tanah adalah 1,5 meter. Pada box tersebut diberi kawat yang cukup kuat sebagai dasarnya. Kapasitas box tersebut adalah 100 ekor DOD. Di dalam box tersebut juga terdapat 2 lampu, yang berfungsing untuk menghangatkan DOD. Itik (DOD) berada di dalam box sampai umur 14 hari. Setelah itu, itik tersebut diturunkan ke kandang. Untuk DOD umur 1-14 hari Pak Swastito menggunakan pakan buatan pabrik 100%. Pakan yang digunakan adalah BR binter buatan perusahaan pakan ternak Japfa.

2.    Pemeliharaan masa pertumbuhan (periode grower)
Periode pemeliharaan itik peking pada masa pertumbuhan/masa grower, perlu diperhatikan ternak yang dipelihara, karena pada masa ini yang banyak dipelihara adalah itik peking (peking duck) betina sebagai calon bibit pengganti /replacement stock atau persediaan bibit dan juga itik peking jantan yang berfungsi sebagai pejantan pengganti. Untuk mempersiapkan peremajaan bibit, maka perlu dipersiapkan bibit pengganti yang mempunyai kelebihan atau keunggulan tertentu sebagai bibit pengganti, baik jantan maupun betina dengan seks rasio 1:4 (1 jantan 4 betina). Pada periode ini itik yang dipelihara berumur antara 61 hari sampai dengan 150 hari, sedangkan kapasitas kandang pada masa ini sekitar 6-8 ekor/m2.
Berdasarkan data hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap peternakan itik peking yang dimiliki oleh Bapak Swastito, untuk pemeliharaan itik peking pada masa grower menggunakan kandang yang intensif. Pada bagian bawah kandang milik bapak swastito tersebut terdapat kolam lele, yang memanfaatkan kotoran itik untuk pakan lele tersebut. Selain itu kandang itik yang dimiliki oleh Bapak Swastito tersebut terbagi menjadi beberapa flok. Setiap flok (bagian) tersebut dipisah dengan sekat-sekat. Setiap flok berisi 100 ekor bebek pedaging. Pada setiap terbagi menjadi 3 bagian, yaitu tempat untuk tidur, tempat makan dan tempat minum. Pada bagian tempat tidur dilapisi dengan serbuk gergaji yang cukup tebal, sehingga dapat menjaga suhu tempat tersebut dan memberikan kenyaman pada itik. Dengan pembagian tempat makan, minum dan tidur tersebut dapat meningkatkan kebersihan kandang. Selanjutnya untuk pakan yang digunakan untuk masa grower adalah pakan campuran. Pakan campuran tersebut terdiri dari 50% tepung roti, 30% bekatul dan 20% konsentrat (dengan protein 36%).

3.    Pemeliharaan peking duck layer/periode bertelur
Itik peking/peking duck yang sudah berumur 5 bulan atau lebih baik jantan maupun betina dikategorikan sebagai itik layer karena pada saat ini kondisi itik sudah bersiap-siap untuk memproduksi telur, ada yang mulai umur 5,5 bulan atau 6 bulan tetapi secara umum mulai bertelur normal pada umur 6 bulan. Itik-itik tersebut ditempatkan pada kandang khusus, yaitu kandang itik dewasa, kandang itik ini dilengkapi dengan tempat bertelur serta kandang umbaran atau lapangan tempat bermain yang dilengkapi dengan kolam/saluran air yang berfungsi untuk mandi itik dan mendinginkan tubuh pada saat siang hari dengan seks rasio sekitar 1:4 (1 jantan banding 4 betina). Ternak-ternak ini berfungsi sebagai bibit penghasil telur yang siap untuk ditetaskan sebagai sumber DOD (Day Old Duck) yang dipasarkan untuk bakalan pemeliharaan itik peking. Kapasitas dikandang dewasa sekitar 3-5 ekor/m2.
Penjelasan dari literatur tersebut sedikit berbeda dengan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada peternakan itik peking yang dimiliki oleh Bapak Swastito. Pada peternakan tersebut, beliau menggunakan rasio seks 1:8 (1 pejantan banding 8 betina). Menurut Beliau, rasio seks tersebut sangat optimal untuk diterapkan, karena jumlah itik pejantan tidak terlalu besar dalam kandang tersebut dan jumlah telur yang dibuahi dapat lebih optimal. Untuk kandang pada masa layer, Bapak Swastito menggunakan kandang umbaran dengan saluran air atau parit yang terdapat di tengah-tengah kandang tersebut. Pada bagian bawah kandang dilapisi dengan serbut gergaji yang cukup tebal. Tunjuan pemberian serbuk gergaji tersebut adalah untuk menjaga kelembaban udara dan untuk memberikan rasa nyaman pada itik tersebut.
Untuk itik peking pada masa layer/petelur , Bapak Swastito menggunakan ransum pakan yang terdiri dari tepung roti, bekatul, konsentrat, serta limbah darah dari RPH. Darah yang diperoleh dari RPH diproses dengan cara merebus darah tersebut dalah kuali besar selama 8 jam. Kemudian didiamkan selama 1 malam terlebih dahulu, sebelum dicampur dengan ransum pakan untuk itik peking petelur. Rasio atau perbandingan bahan pakan untuk ransum adalah 40% darah, 20% bekatul, 30% tepung roti , dan 10 % konsentrat, serta ditambah sedikit mineral.
3.4. Tahapan Pemeliharaan Penggemukan
Untuk pemeliharaan itik peking/peking duck dengan tujuan penggemukan hanya dilaksanakan dalam 1 (satu) masa pemeliharaan yaitu dari itik berumur 1 (satu) hari sampai itik peking tersebut siap dijual. Dengan makanan dan pemeliharaan yang baik, berat badan itik peking yaitu mencapai sekitar 3,3 kg selama pemeliharaan kurang lebih 55-60 hari yaitu mulai umur 1 hari sampai umur 55 hari. Pada umumnya itik-itik yang dipelihara untuk tujuan ini adalah itik peking yang jantan, tetapi yang betinanya pun mempunyai kemampuan yang sama dengan yang jantan hanya berbeda sedikit saja dalam hal berat.
Kalau kita bandingkan antara waktu pemeliharaan dengan hasil produksi daging yang dihasilkan antara itik peking/peking duck dengan ayam ras pedaging akan lebih unggul itik peking, di mana untuk itik peking dengan waktu pemeliharaan sekitar 53-55 hari bisa menghasilkan daging berat hidup sekitar 3,3 kg, sedangkan untuk ayam ras pedaging dengan jangka waktu pemeliharaan sekitar 32-35 hari menghasilkan daging berat hidup sekitar 1,2 - 1,5 kg, sehingga apabila kita bandingkan dengan waktu yang sama maka akan diperoleh berat daging itik peking melebihi berat dari pada ayam ras pedaging.
Sedangkan berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa itik peking pedaging dapat dipanen pada umur 45-60 hari. Bobot hidup minimal itik peking yang dapat dipanen adalah 1,5 kg.

3.5.        Permasalahan Peternak Itik
Dalam dunia peternakan, permasalahan praktis selalu bermunculan, masalah yang dihadapi itu terkadang tampak sepele, ringan, dan gampang. Namun tidak jarang juga masalah yang datang juga tampak besar, rumit, dan bahkan menakutkan.
Dalam mencari kiat permasalahan khususnya dalam dunia peternakan itik yang memang belum ada standar yang pasti, Dalam pemeliharaan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya bisa dengan mencoba sendiri, dengan bertanya kepada peternak yang sudah berpengalaman, dengan bertanya pada para praktisi, dengan mencari rujukan kepada berbagai media buku peternakan dan media masa tentang peternakan, dan juga dengan membuka berbagai situs internet yang membahas tentang seputaran dunia unggas itik.
Dunia peternakan itik memang sudah lama di kenal oleh masyarakat kita, namun sayang populasi, produktivitas, dan pertumbuhannya dapat dikatakan masih berjalan lamban.
Seperti usaha lainnya, bisnis beternak itik/bebek tidak lepas dari berbagai kendala, masalah, dan resiko. sejauh ini kendala/masalah yang timbul adalah disebabkan oleh:
1.    Masalah genetis bibit yang dibudidayakan. Kurangnya ketersediaan bibit berkualitas (keseragaman induk) di sebabkan oleh kurangnya pemahaman para breeder (penetasan) tentang pentingnya faktor genetika hasil tetasannya yang berdampak luas terhadap dunia perbebekan/itik ini. Contoh kasus : banyaknya jenis itik/bebek petelur yang produktivitas bertelurnya yang makin lama makin menurun. Kiat untuk memecahkan masalah tersebut adalah peternak harus mempunyai sumber yang dapat di percaya untuk mendapatkan bibit bebek/itik petelur ataupun untuk pedagingnya.
2.    Masalah Standar tata cara pemeliharaan masih menganut sistem tradisional dan semi intensif, yang belum ada kesepakatan standar nasional yang jelas. Sebab tiap masing-masing daerah peternakan itik/bebek di Indonesia sekarang ini mempunyai cara caranya masing-masing untuk memelihara ternaknya. Contoh kasus: dari setiap sentra peternakan itik/bebek tidak dapat ditemui kesamaan tentang pola pemeliharaan, sistem perkandangan, pakan, dll.
Kiat untuk melaksanakan pemeliharaan dengan baik dan benar yang perlu diperhatikan:

a.    Pemilihan tempat dan kondisi lingkungan berdasarkan pada jenis bibit yang akan di ternakan, sistim perkandangan , kualitas dan kuantitas pakan serta ketersedian air yang cukup.
b.    Perencanaan usaha ternak itik/bebek meliputi ukuran unit usaha, segmen usaha itik/bebek yang dipilih (petelur, pembibitan, pedaging,dll).
c.    Perencanaan pembuatan kandang berdasarkan pada tata letak kandang, ukuran kandang, kepadatan kandang, dan bahan pembuatan kandang.
d.   Perencanaan metode beternak itik/bebek berdasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis, cara pengelolaan, dan rencana tahunan.


3.    Masalah Pakan.
Disamping bebagai masalah diatas masalah lain yang menghadang adalah Pakan. Jika pemberiannya tidak dilakukan secara tepat dan benar justru akan menimbulkan masalah baru, sebab masing masing di setiap daerah peternakan jenis dan pola pakannya berbeda beda. Kiat untuk mengatasinya adalah minimal peternak harus dapat mengetahui kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk ternak itik/bebeknya, dan juga mengetahui kandungan nutrisi bahan yang akan digunakan untuk pakan itik/bebek pada masa awal pertumbuhan (starter), pertumbuhan (grower) ,petelur (layer) dan pedagingnya (finisher).





BAB III
PENUTUP

1.1.Kesimpulan
Iti peking merupakan itik pedaging yang mampu mengatasi dan mampu mengurangi masalah perekonomian masyarakat khususnya dalam bidang peternakan. Tentu saja dalam perawatannya di butuhkan berbagai aspek yang mendukung kualitas itik peking tersebut.
Kualitas yang baik akan menentukan harga pada pasaran itik tersebut. Selain dari bibit yang baik, metode budidaya, tentunya aspek social juga turut berperan penting dalam beternak itik peking ini.

1.2.Saran
Dengan memperhatikan permasalahan dan kendala di atas, kami berharap di masa yang akan datang dunia itik di indonesia ini akan mengalami kemajuan di berbagai bidang, diantaranya:
1.        Perbaikan genetis terhadap jenis itik/bebek yang diternakan untuk memperoleh keturunan itik/bebek dengan kriteria tertentu. Meskipun sudah banyak yang berusaha mengembangkan tetapi hasilnya masih belum banyak dirasakan oleh kebanyakan peternak.
2.        Perbaikan metode budidaya itik/bebek.
3.        Perbaikan Aspek sosial ekonomi dari para peternak dikaitkan dengan usaha dalam dunia perbebekan/itik ini.





DAFTAR PUSTAKA

Joko, A. 2011. Profil Itik Peking. (http://www.sentralternak.com), diakses 20 Desember 2011.
Rahman, S. 2010. Cara Budidaya Ternak Bebek Peking. (http://www.ristek.go.id), diakses  20 Desember 2011.
Roeswandy. 2006. Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi Aspergillus niger dalam Ransum terhadap Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu. Jurnal Agribisnis Peternakan, 2:62-66.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

cond='data:blog.pageType == "item"'>